Senin, 03 September 2018

Babak Baru


Menangis

Hanya itu yang bisa aku lakukan

Hidup ini mengajariku arti pengorbanan

Memulai babak baru sebelum waktu


Aku belum siap

Sementara aku dipaksa agar siap

Siap mengubur semua mimpi

Siap menghadapi kisah pilu

Siap menghadapi babak baru

Atau siap menjumpai cerita haru


Babak baru

2 kata membuat ku merinding takut

Kenapa semua menjadi pekat?

Aku ditanya. Namun aku tercekat

Sementara jawabanya harus cepat

Baiklah!! Aku akan menghadapi babak baru

Bersemu rintik kecil hari lalu
Read More

Minggu, 19 Agustus 2018

Antara Akulaku dan HARPITNAS



Assalamu’alaikum wr.wb semuanya.

Selamat datang kembali di blog ku yang kece ini. hehee

Btw, udah pada belanja belom ni?? Apakah barang yang kamu inginkan sudah bisa kamu miliki dengan mudah? Atau masih mencari-cari info dulu dimana tempat beli barang yang mudah, simple, dan bisa kredit lagi. Nahh,,,, nggak usah repot lagi nyari-nyari tau atau testimony dari mulut ke mulut untuk belanja. Baca aja blog aku sampai selesai. Hehehe.. aku mau ngasih tau kamu ni kalau ada tempat belanja untuk belanja yang murah, banyak promo dan bisa kredit. Yaituuuu??? Di Akulaku.

Kenapa Harus Akulaku?


Iyahh.. di akulaku kita bisa belanja apa aja yang kita mau. Mau belanja laptop, mesin cuci, dispenser, handphone, dan alat-alat rumah tangga lainya? Lengkap dech. Banyak banget disini.





Jadi ingat ni kalau aku dulu pengen belanja laptop. Harus cari tau dulu dimana tempat beli yang murah dan bagus, Tanya sana sini, terus minta bantuin kawan-kawan. Aduuuhhh.. lamaaa.. belum tentu juga nanti dapat sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi sekarang? Ada baanyyakk sekali aplikasi online yang bisa kita mamfaatkan untuk belanja online. Kita bisa pilih barang mana aja yang kita inginkan.

Begitupun di Akulaku. Caranya download aplikasi Akulaku di Play Store, daftar, lalu geser-geser jarimu untuk melihat barang-barang yang kamu inginkan. Dan ada juga promonya loo.. Akulaku juga ada hot promo perupa penawaran terbaik dan harga termurah. Di Akulaku kita nggak mesti langsung bayar lunas sekaligus. Tapi kita bisa bayar secara kredit. Nggak pake kartu kreditnya lagi nich. Jadi lebih gampang tanpa ngurusin ini itu. Dan kalau beli barang yang harganya lumayan menguras kantong, kita bisa bayar beberapa kali secara kredit. Dp nya juga murah banget. Coba aja cek di Akulaku. Tapi kalau aku pribadi sich, kalau masih terjangkau mending langsung bayar lunas aja sekaligus. Tapi kalau agak mahal aku lebih milih nabung dulu. Hehee.. tapi bagi teman-teman yang memang butuh barangnya cepat karena sangat mendesak, Akulaku memberikan kemudahan ini. duhh.. Akulaku pengertian banget sichh.. nggak kayak dia. #Uppss


Selain itu, mulai tanggal 20 Agustus pula, Akulaku akan menjadi aplikasi virtual kredit pertama yang berani memberikan kompensasi jika pengajuan limit kita ditolak. Kompensasinya yaitu berupa uang cash dengan total RP 888.000.
 

Dan pada tanggal 20 Agustus hingga 11 September 2018, Akulaku akan mengadakan Hari Pesta Kredit Nasional (HARPITNAS). Dan selama periode tersebut, konsumen akan dimanjakan dengan berbagai pilihan produk idaman yang bisa diraih dengan uang sebesar RP 1.000 saja tiap harinya. Launching Hari Pesta Kredit Nasional Akulaku ini mulai tanggal 22-26 Agustus 2018 bertempat di Gandaria City. Catet yaa tanggalnya. Di hari itu, Akulaku akan bagi-bagi jutaan hadiah hingga Akulelang 10 smartphone, 2 Laptop, dan 1 unit motor mulai dari Rp 1.000. wawwww…

Gak Cuma itu ni teman-teman, disana kita juga bisa BELANJA OFFLINE dengan scan Barcode dari Aplikasi Akulaku. Bayarnya pakai Limit Kredit Akulaku.

Lagi ni teman-teman, ada juga activity super gokil yaitu:

- AkuHunt: Share foto kita dengan billboard Akulaku



- AkuGift: Sobek-sobek dapat hadiah jutaan Hadiah

- AkuShakeIt: Goyang Terheboh dapat hujan Hadiah

- AkuLelang: 10 Smartphone, 2 Laptop, dan 1 Unit Motor harganya mulai Rp 1.000



- AkuScan: Snap and Win Voucher Belanja hingga 25 Juta tiap jam 16.00 WIB.

Nahh.. gimana?? Yuk belanja di Akulaku dan jangan lupa nikmati keistimewaan-keistimewaan di HARPITNAS nya..


Happy Shopping.. :-) 

Wassalamu’alaikum wr. wb
Read More

Minggu, 12 Agustus 2018

Ketika Kisah Lama Menyapa


Aku benar-benar tak menyangka, kisah ini kembali hadir. Kisah yang telah lama aku tutup dalam lembaran hati yang pernah singgah. Dadaku sesak. Semua kisah lalu itu kembali hadir dalam ingatanku. Tak mampu aku menahan hati untuk tidak bergemuruh. Lukaku kembali menganga.  Dia yang telah membuat luka itu kini kembali hadir dalam kedok rindu.

Dia kembali menyapa pagiku yang hangat. Iya.. Pagiku yang hangat kini sudah tidak lagi hangat. Bahkan sudah memanas. Rasa muak,  benci,  kasihan, rindu, bercampur jadi satu dalam semayam masa lalu. Ia kembali hadir. Ingatanku melayang ketika aku dahulu memutuskan untuk pergi. Meninggalkannya dengan sejuta harapan kepadaku namun tanpa memberiku kepastian. Kurasa itu hanya kesia-siaan.

"Kalau kamu memang sayang, setelah kita sama-sama tamat kita menikah ya." aku menanyakan kepastian untuk sebuah hubungan yang sudah kami jalin berdua. Sebuah hubungan yang terjalin tanpa sengaja.

Namun dia tidak merespons. Dia hanya diam tanpa suara.

"Kamu mau kan?", aku kembali bertanya. Berharap tiada jawaban lain selain kata iya.

"Tidak bisa,  Dil! ", jawabnya mantap. Aku menatap. Namun ia memalingkan wajah tak mau balik menatapku.

"Kenapa? Soal pekerjaan?  Tenang saja. Kita akan memulai semuanya dari 0. Bukan cuma kamu,  tapi aku juga akan bekerja. Aku akan membantumu melewati apapun yang terjadi dalam rumah tangga kita. Aku akan menerimamu apa adanya. Tidak usah khawatir", aku berusaha meyakinkan ya.

"Tidak. Bukan itu", jawabnya lagi.

"Lalu? ", aku bertanya tak sabar

"Aku memiliki seorang adik yang saat ini sekolah SMP.  Aku harus bekerja dahulu, aku akan membiayainya menggantikan posisi ibu,  aku tidak ingin ibu terus bekerja demi sekolah kami dan setelah tamat,  itulah saatnya aku berbakti dan membalas semua jasa-jasa ibu." jelasnya

"Bagaimana dengan aku dan hubungan kita?" aku bertanya lebih lanjut.

"Aku ingin pernikahanku nanti aku sendiri yang membiayai, Dil.  Jadi aku harus mengumpulkan uangnya dahulu.  Membuka usaha, misalkan. Aku tidak ingin ibu justru kembali terbebani saat nanti menikahkan aku. Cukuplah selama menguliahkan aku saja ibu berhutang kepada tetangga dan karib kerabat.", ia kembali menjelaskan.

"Dila, jika kamu benar-benar ingin menikah segera setelah tamat kuliah. Aku takkan memaksamu untuk terus bersamaku. Aku tak ingin mengikatmu dalam hubungan kita. Tak ada sesuatu yang menjamin hubungan kita. Kamu punya hak dan kendali atas dirimu sendiri. Kamu bebas menentukan langkah". Lanjutnya.

Aku menatapnya seakan tak percaya. Semudah itu ia mengatakan semua, meski apa yang ia sampaikan itu benar adanya. Tapi aku tidak bisa menerima. Kami saling mencintai. Dia mengatakan itu disaat aku sedang sayang-sayangnya kepada dia. Kenapa dia tidak mengungkapkan sebuah kata-kata perjuanganya sebagaimana ia berjuang menaklukkan hati ku sebelum aku benar-benar jatuh cinta.

Kecewa, itulah rasa yang aku rasa. Ibu terus mendesakku untuk segera menikah.

"Setelah tamat kamu nikah ya nak.. Biar hati ibu lega. Setidaknya anak satu-satunya ibu ini sudah memiliki pendamping yang akan selalu melinduingnya jika ibu sudah tai nanti. Jika kamu belum ada calon, tenang saja.  Anak teman-teman ibu yang masih bujangan masih banyak tuch.  Dan siap untuk menikah". Itulah kata-kata yang pernah ibu katakan padaku.

Dan setelah Fadil mengatakan bahwa ia tidak bisa menikahiku ketika tamat dan tidak mmberi kepastian kapan ia akan melakukan itu,  komunikasi kami menjadi terganggu. Aku enggan menghubunginya. Dan dia juga mungkin sungkan untuk menghubungi. Hingga akhirnya aku mulai berbicara lebih dahulu kepadanya. Mengatakan bahwa aku akan pergi jauh dari kehidupanya. Aku memintanya untuk tidak menghubungi dan mencariku lagi. Yaa..  Kata-kata itu aku ketik dalam sms yang panjang. Penuh perasaan. Dengan berat hati aku mengatakanya.  Aku benar-benar menghilang. Meski setengah hatiku tertinggal pada Fadil.

Kami 1 kampus. Meski aku sudah pindah kostan, tetap pernah sekali dua kali kami berpapasan di jalan. Dan aku segera mengalihkn pandangan jika kebetulan kami saling bertatap muka.  Namun jika hanya aku yang kebetuln melihatnya, maka aku memilih untuk menghindar atau bersembunyi kalau bisa. Aku tidak ingin ia melihatku.

Dan ketika sedang membuka email di hp ku, ada pesan masuk di whatsapp. Nomor baru. Aku menjawab salamnya dan menanyakan ia siapa. Ternyata dia adalah Fadil.  Tentu saja aku terkejut. Darimana dia dapat nomor hp ku?  Ah itu pertanyaan bodoh.  Gampang sekali jika ia ingin menghubungi ku. Karena kami memiliki beberapa teman yang sama dan tentu menyimpan nomor hp kami berdua. Ia hanya tinggal minta atau mengambil no hp ku secara diam-diam lalu menghubungiku. Ahh.. Aku tidak menyangka ia kembali hadir setelah lebih dari 1 tahun kami tidak ada lagi komunikasi. Dan aku sudah tidak lagi menjalin hubungan yang spesial dengan siapapun.  Semua orang yang menyukai atau memberi kode kepadaku, aku anggap ia hanyalah teman atau kakak semata.  Toh Ibu juga tidak mendesak dan menanyaiku ku lagi tentang menikah. Belum ada apa yang membuat hatiku tertarik.  Atau mungkin karena aku belum bisa move on dari Fadil.  Ntahlah..

Berungkali ia mengirim pesan kepadaku.  Ada apa dengan dia??  Aku tidak suka ini.  Aku membenci sesuatu padahal sesungguhnya aku menyukai itu. Apalagi akhir-akhir ini dia sering kali menanyai kabarku dan menitipkan salam kepada Ando.  Teman kami.

"Hey",

1 pesan dari nomor baru masuk.  Aku tau itu nomor whatsapp Fadil.  Aku sengaja tidak menyimpanya meski berungkali juga ia memintaku untuk menyimpan nomornya. Aku tau ia memintaku untuk menyimpan no hp nya agar ia bisa melihat status WA ku. Karena untuk bisa melihat status/snap wa teman kita, maka keduanya harus saling menyimpan nomor masing2. Aku tidak mau. Aku memilih untuk menutup diriku dari Fadil setutup mungkin. Aku tidak ingin kisah itu terulang. Berungkali aku menanyai hatiku. Apakah aku benci? Tidak!! Aku tidak benci. Hanya saja aku tidak terima.

"Kenapa? ", tanyaku.

"Oh tidak..  Cuma mau test kontak aja", aku tau dia bukan cuma test kontak.  Dia ingin tau kabar ku atau lebih dari  itu,  ingin chat lama-lama denganku. Sementara selama ini aku hanya balas pesan nya singkat-singkat saja. Bahkan 1 jam atau parahnya berhari-hari setelah dia chat baru aku balas.

"Perasaan test kontak terus", aku to the point.

"Hmm..", hanya kata hm yang ia jawab. Aku fikir ia kebingungan mau jawab apa.

"Ada yang mau kamu omongin, Dil? " tanyaku lagi. Kami memang memiliki panggilan singkat yang sama. Aku Dila dan dia Fadil. Sama-sama dipanggil “Dil”.

"Tak bisa dibohongi bahwa hati ini rindu", jawabnya jujur.

Glek..  Hatiku berdesir.  Ah Ya Allah.. kenapa dia mengungkapkannya?  Mataku berkaca.  Aku yakin dia masih mengharapkanku meski tidak bisa menjanjikan apapun kepadaku. Apakah ia tau yang dibutuhkan wanita itu cuma 1. Kepastian. Dan dia tidak memiliki itu. Hati ku gamang. Aku harus jawab apa. Apakah aku juga rindu? Tidak. Aku tidak rindu. Aku tidak bohong. Aku memang tidak merindukanya. Aku hanya rindu kenangan kami dahulu. Oh. Padahal sama saja.

"Kamu belum melupakan aku ya?", kata-kata itu lah yang akhirnya aku ketikkan pada keyboard.

"Maaf", katanya singkat.

"Aku yang minta maaf, kamu tidak berhak merindukanku. Kisah kita sudah usai. Lupakan aku.  Lakukan apa saja yang membuat kamu lupa akan aku. Termasuk menghapus kontak ku.  Yakinlah suatu saat nanti kita akan diberikan yang terbaik oleh Allah.  Sebagaimana dulu kamu bilang tidak ada jaminan untuk hubungan kita, maka aku juga tidak menjamin hatiku akan kembali mencintaimu". Aku mengatakan itu dengan tegas. Berharap ia segera mengerti akan maksudku.

"Semua itu sudah aku lakukan.  Tapi semua itu tidak sesuai realita”, katanya.

Ahhh..  Kamu,  kembali mengoyak hatiku dengan pernyataan baru mu.

"Sudahlah.  Jangan buat luka hatiku lagi.  LUPAKAN AKU!", Aku menutup chat pagi ini dengan hati yang ntahlah bagaimana. Ada rasa sedih disana. Aku sengaja menulis kata "LUPAKAN AKU" dengan huruf besar semua sebagai bentuk tekanan dari kata tersebut. Dengan segera aku memblokir no hp nya. Aku tidak ingin ia menghubungiku lagi.

Maaf Fadil jika ini terlalu kejam. Kamu yang lebih dahulu kejam dahulunya kepadaku. Kamu membuat keputusan disaat aku lagi sayangnya. Hingga akhinya aku memilih pergi. Dan kini ia kembali hadir. Apa yang ingun ia tawarkan. Jika saja ia kembali hadir dengan mengatakan bahwa ia akan segera menikahiku, maka aku pasti akan menyambutnya. Tapi itu tidak mungkin. Karena aku yakin keputusanya dulu masih sama. Aku sangat menghargai itu.  Keputusan bahwa ia akan mengabdi terlebih dahulu kepada ibunya. Dan menyekolahkan adeknya.  Tapi kenapa???  Kenapa ia hadir lagi??  Ia datang untuk mengatakan rindu. Tidak ada gunanya mengatakan rindu itu sekarang.  Aku tidak butuh itu, Fadil!!.. Kau membuatku kembali mengenang kisah lama yang harusny sudah lama pula aku muntahkan.


baca juga: Sore Bersama Bapak
Read More

Kamis, 19 Juli 2018

Farewell part 3


Adinda

Matahari belum terlalu menampakkan wajahnya, sementara suara ayam sudah ramai berkokok membangunkan tuannya, atau bahkan minta dibukakan pintu keluar dari kandang untuk mencari makan. Ayah Adinda telah berangkat kerja terlebih dahulu, mencari modal untuk menyambung hidup. Atau mungkin mencari kegiatan sebagai pengusir sepi dan segala rasa kesalnya kepada sang mantan istri. Sekarang Adinda dan Ayahnya telah tinggal jauh dari Isna dan Ibunya. Ia pergi ke sebuah desa pedalaman atas ajakan dari teman Ayahnya Adinda dan Isna. Om Remo.

Sementara Adinda, ia sudah terbiasa ditinggal kerja oleh Ayahnya. Dan bahkan ia pun seekarang terbiasa mencari barang bekas keliling kompleks untuk sekadar mendapatkan uang jajan.

“Kak, kita kemana lagi mencari barang bekasnya?” Tanya Adinda kepada Randa yang menjadi teman bermain sekompleksnya.

“Kita cari di ujung, yookk.. kan kemaren kita belum kesana”, jawab Randa sambil menunjuk sebuah tempat dengan suara air yang deras.

“Tapi kan disana sungai kak, mana ada barang bekas disana, yang ada kita mandi nanti”, jawab Adinda mengelak. Karena kemaren, ketika mereka mencari barang bekas, Randa malah mengajaknya mencari siput yang berakhir dengan basah-basahan lalu mandi.

“Hehee.. nggak koq, oya, disana ada pohon buah jambu warna pink. Nanti kakak panjatin buat kamu. Kamu pasti suka, kan?”

“Yaudah, kalo maksa”, jawab Adinda tertawa.

Mereka kemudian pergi ke tempat yang tadi ditunjuk oleh Randa. Kali ini mereka hanya berdua. Biasanya mereka bertiga dengan Rina, kakaknya Randa. Tapi Rina hari ini pergi bersama ibunya ke rumah Bibi.

Tak lama kemudian mereka sampai. Setelah dapat sedikit  barang bekas berupa botol akua dan sepatu karet, ditambah lagi besi-besi kecil, mereka akhirnya sampai dibawah pohon jambu. Randa memanjatnya. Tapi Adinda yang tak mau diam akhirnya ikut memanjat. Padahal umur mereka belum sampai 7 tahun. Tapi sudah berani saja memanjat. Jarak umur Randa dan Adinda hanya 2 bulan saja. Namun tubuh Randa jauh lebih subur ketimbang Adinda.

“Kak, tolong ambilin itu yang di ujung itu”, Adinda meminta Randa mengambil buah Jambu yang sudah kelihatan masak.

Tanpa menjawab, Randa dengan cekatan langsung mengambilnya untuk Adinda.

Setelah merasa puas makan buah jambu di pinggir sungai yang subur, mereka perlahan turun. Namanya juga anak-anak, mereka tidak langsung pulang. Adinda menemukan kotak rokok lalu mengambil kertas berwarna emas di dalamnya, lalu dengan kreatif ia mempelintir kertas rokok itu lalu dijadikanlah olehnya berupa gelang, kalung, cincin. Mereka bermain seolah-olah lagi jualan emas perhiasan.

Ketika asik bermain, Adinda teringat kunci rumah yang tadi ia tarok di saku celananya, namun tatkala ia meraba, ia tak menemukan apa-apa selain saku celana yang kosong. Lalu ia membongkar tas isi barang bekasnya. Namun tak ditemukan juga. Lalu Adinda dan Randa terus mencari hingga ke sungai. Namun tak juga bertemu. Adinda menangis. Ia sangat takut ayahnya marah. Akhirnya mereka pulang. Adinda masih menangis dan Randa berusaha membujuknya. Namun tak juga membuat tangis Adinda berhenti.

Mereka menuju pulang. Menyerah karena tidak menemukan kunci. Adinda masih dalam tangis kecemasanya. Waktu telah menunjukkan sore, Adinda tidak mau diajak ke rumah Randa. Ia akan menunggu ayahnya pulang di depan pintu rumah.

Tak lama ayahnya pulang, Adinda menangis lalu memeluk ayahnya langsung.

“Loh, Anak gadis kecil ayah kenapa nangis?”, Tanya ayahnya dengan lembut. Beda sekali dengan perlakuanya kepada ibu Adinda yang kasar.

Dengan sesunggukan Adinda mengatakan kunci rumah hilang. Dia takut ayahnya marah. Sebenarnya Ayahnya memang ingin marah. Karena itu adalah kunci satu-satunya yang belum sempat di duplikat. Namun demi melihat Adinda yang seperti itu, ia tak tega.

“Yasudah.. ayah nggak marah koq, lain kali hati-hati ya. Itu kunci kita satu-satunya”, Ayah Adinda menenangkan.

Adinda hanya mengagguk. Kemudian Ayahnya mencari batu lalu membuka kuncinya dengan paksa. pintu pun terbuka.

Setelah masuk ke rumah, Ayahnya bilang. “Nanti malam kita ke rumah Om Remo ya, Dek, ada Adek Hilma juga disana”.

Hah?? Ada adek Hilma? Adinda terkejut. Kalau ada Hilma berarti ada Tante Indah. Tante yang kemaren mengantarkan nasi ke rumah. Tante Indah memang baik. Tapi Adinda tidak suka. Ia takut Tante Indah merebut Ayah dari Ibunya. 

“Nggak mau!”, jawab Adinda ketus.

“Loh, Kenapa? Kan kamu bisa main sama Dek Hilma. Udah lama nggak main sama dia kan?”, Ayahnya membujuk.

“Pokoknya nggak mau!!”, Adinda kemudian langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Ia kembali menangis. Bukan tangisan takut lagi. Tapi tangis Rindu. Ia rindu kepada Ibu dan Kak Isna. Keterjagaan ia di tengah malam dalam gendongan Ayah masih belum sanggup ia pahami.

Bersambung

Read More

Minggu, 08 Juli 2018

Sinopsis Assalamualaikum Calon Imam


Judul: Assalamualaikum Calon Imam
Nama Penulis: Ima Madaniah
Tempat Terbit: Jl. Angsana Raya Pejaten Timur
Penerbit: PT BUMI SEMESTA MEDIA
Tahun Terbit: November 2017
Keterangan edisi: Cetakan Pertama
Halaman:  476 hlm

Hallo,,,, aku mau certain tentang kisah yang penuh drama ini. yang mengharu baru. Aduhh.. akunya mudah baper jadi malah makin baper usai baca novel ini. wkwk

Ceritanya sangat menarik ni, lengkap. Hampir semua tokoh ada kisahnya disini. Bukunya juga tebel banget. Namun karena novelnya bagus dan buat penasaran,, aku baca ini sampai tuntas dengan segera. Bagusnya sich baca aja langsung novelnya dan nilai sendiri. Tapi aku tetap mau certain synopsis novelnya ya. Sedikit saja. Nggak banyak koq. Hehee

Cerita berawal dari kisah Nafisya Kaila Akbar. Seorang mahasiswa jurusan farmasi semester awal. Ia sangat membenci ayahnya yang tega meninggalkan dia dan keluarga ketika masih kecil. Ia bahkan tidak percaya dengan yang namanya cinta. Hingga pada akhirnya secara diam-diam ia mencintai Jidan. Sahabat kecilnya. Sayangnya, Jidan justru mencintai Syalsa Sabila Akbar yang merupakan kakak dari Nafisya.

Hingga pada akhirnya Jidan memutuskan untuk menikah dengan Syalsa dan itu membuat Nafisya begitu sakit. Tatkala pernikahan Syalsa akan digelar, ternyata di waktu yang bersamaan ia dilamar oleh Alif. Seorang dosen galak di kelas Nafisya yang sering membuat Nafisya kesal. Alif satu-satunya orang yang tau perasaan Nafisya kepada Jidan karena tak sengaja ia melihat pesan singkat di handphone Nafisya ketika dulu handphonenya tertinggal di dalam mobil Alif.

Nafisya belum menjawab lamaran Alif. Hingga pada akhirnya ia langsung menerima dan meminta Alif menikahinya di depan Ayah Nafisya yang sedang sakaratul maut. Iya, Nafisya sudah memafkan ayahnya setelah ia tau apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Apalagi ayahnya menderita penyakit yang akhirnya merenggut nyawa Ayahnya.

Waktu berjalan. Alif tetap menjadi dosen tergalak dikelas meskipun statusnya sudah menjadi suami Nafisya. Tidak banyak yang tau pernikahan dosen dan mahasiswa tersebut kecuali orang-orang terdekat Nafisya dan para dosen di kampusnya.

Meski sudah berusia 12 bulan pernikahan, namun Nafisya masih belum bisa membuka kerudung di depan suaminya sendiri. Dan Alif juga tidak memaksa. Namun tatkala  mereka sudah mulai saling mencintai dan merasa bahagia dengan perasaan mereka, Nafisya menggugat cerai Alif.

Nafisya menderita sakit Neoris optic.  Ia akan cacat mata. Karena itulah ia meminta cerai kepada Alif. Ia ingin Alif bahagia tanpa harus terbebani dengan wanita cacat seperti dia. Kemudian Alif menjatuhkan Talak kepada Nafisya tepat dihari wisudanya.

Nafisya tak sadarkan diri. Ia juga tak mampu melihat apa-apa. Dan akhirnya ia dibawa oleh kakaknya hari itu juga di rumah sakit pusat. Alif tidak tau bahwa Nafisya sakit. Nafisya melarang semua orang mengatakan tentang penyakitnya kepada Alif. Namun pada akhirnya Jidan nekat memberi tahu Alif disaat pada hari itu Alif siap berangkat keluar negeri. Ia memutuskan untuk melupakan semua kenanganya. Dan ketika Jidan memberi tahu perkara Nafisya, Alif langsung ke rumah sakit tempat Nafisya di rawat. Setelah 6 bulan berpisah, akhirnya mereka rujuk kembali.

Nafisya di operasi. Awalnya ia dinyatakan meninggal karena kehabisan darah ketika operasi. Namun denyut jantungnya kembali lagi. Ia koma selama 2 minggu. Selama itu pula Alif merawatnya dengan kasih sayang. Ia membaca sebuah buku kimia milik Nafisya. Disana Nafisya juga menuliskan tentang curahan hatinya yang selalu diawali dengan  Assalamualaikum calon Imam. Semua isi surat itu tertuju untuk Alif. Bahkan di saat Alif sendiri sudah menajdi imamnya. Ternyata Nafisya sudah sejak lama mengagumi Alif. Lelaki pembaca surat Al-Kahfi dengan merdu namun Nafisya saat itu tidak tau siapa si pemilik suara.

Hingga pada akhirnya Nafisya sadar. Ia sembuh dan bisa melihat meski ia tetap menderita rabun senja. Yang tatkala hari mulai gelap, penglihatanya pun ikut gelap. Alif dan Nafisya sangat saling mencintai. Hingga pada akhirnya juga Nafisya dinyatakan hamil. Sekarang ia tidak lagi memanggil Alif calon imam. Tapi Assalamu’alaikm Imamku.

TAMAT
baca juga: Funbike dan Deklarasi Pra Hari Anti Narkoba Internasional
Read More

Selasa, 03 Juli 2018

Keluarga Pak Iwan

“Shodakallahul adzimm..”

Aku menutup kajianku. Matahari sudah mulai bersinar terang. Aku harus segera bersiap-siap untuk kuliah. Setelah melepas mukena dan membersihkan tempat tidur, sebuah pesan singkat masuk.

“Dek, suami ayuk sudah meninggal”. Bunyi pesan tersebut singkat.

Sontak aku terkejut. Aku menuliskan nama pada nomor ini adalaha “donor”. Karena aku lupa siapa namanya, dan beliau adalah salah satu orang yang meminta bantuan terhadap relawan kami untuk donor darah bagi suaminya.

Pertanyaan bertubu-tubi menghampiriku. Kapan Bapak meninggal? jam berapa? dimana rumahnya? jam berapa ia dikubur?

Sementara itu aku berusaha mengetik pesan singkat dengan tenang.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’inn.. Jam berapa bapak meninggal, Yuk?”, tanyaku.

Lama menunggu.. tak ada balasan.

Tak terasa air mataku jatuh. Aku menangis. Sesal menyelusup di dada. Bapak ini meninggal sementara aku belum sempat menjenguk dan melihatnya secara langsung.

Kala itu, aku sedang membalas chatan di grup. Namun ketika sedang asik mengobrol dengan teman-teman, salah satu rekan yang lain menyebarkan info tentang seseorang yang membutuhkan pertolongan darah dan dana karena penyakit ginjal. Namanya adalah Pak Iwan. Tertera juga disana No. Hp Istri beliau untuk dihubungi. Pak Iwan membutuhkan golongan darah O. Aku berfikir barangkali aku bisa membantu karena kebetulan golongan darah kami sama. Namun, ternyata Allah  berkehendak lain. Hemoglobin darah ku rendah. Apalagi semalam aku begadang. Sangat tidak memungkinkan untuk donor darah.

Tidak hanya sebatas itu, aku berinisiatif untuk mengadakan penggalangan dana. Lalu aku menghubungi teman-teman untuk project tersebut. Tak ketinggalan juga meminta izin kepada istri Pak Iwan untuk penggalangan dana. Dan tentu saja beliau menyambut dengan senang hati. Namun, lagi-lagi aku gagal membantu. Karena memang waktu itu berdekatan dengan jadwal ujian akhir. Setelah ujian semua libur. Aku merasa bersalah. Namun, juga tidak bisa memaksakan kehendak karena aku tidak mungkin bisa bergerak sendiri tanpa bantuan dari teman-teman.

Waktu terus berjalan. Aku sejenak melupakan keluarga Pak Iwan. Tentang beliau yang membutuhkan pertolongan. Hingga akhirnya liburan usai dan kami kembali kuliah seperti biasa. Lagi-lagi Allah memanggilku agar membantu saudara yang membutuhkan.

Pagi itu sebuah pesan singkat masuk.

“Assalamualaikum dek, ini Ayuk Yeni dek, yang kemaren minta bantuan donor. Ayuk mau minta tolong lagi”, demikian bunyi pesan tersebut.

Aku berusaha mengingat. Tertulis disana nama kontaknya donor. Ooo iyaa yaaa.. aku baru ingat sekarang. Ini yang dulu aku pernah mau bantu galang dana tapi nggak jadi. Aku memang nggak memberi nama di hp ku. Aku hanya menuliskan namanya “donor”.

“Waalaikumussalam. Owh.. iya Yuk, apa kabar Bapak yuk? Ada yang bisa kami bantu?”, jawabku segera.

Aku memang memanggil nya dengan sebutan “Ayuk”, meskipun pada suaminya memanggil Bapak. Karena ketika aku menelpon beliau dahulu suaranya masih kayak muda banget.

“Suami ayuk mau cuci darah, Dek. Namun kami tidak punya kendaraan. Mau sewa angkot kami lagi kekurangan dana”, tutur beliau

“Owh, iya, Yuk. Aku coba bantu cari kendaraan dulu ya yuk. Nanti kalau udah ada ketemu aku hubungi ayuk lagi”, jawabku

“Iya Dek, makasih ya dek”

“Sama-sama, Yuk”, tutupku

Lalu kemudian aku berusaha mencari bantuan. Hubungi pihak-pihak yang kiranya punya mobil operasional untuk membantu. Namun ternyata mobilnya lagi di pake. Hingga akhirnya aku menghubungi Mbak Safwa. Seorang wanita muda yang memiliki jiwa empati yang tinggi. Akhirnya beliau menghubungi Ayahnya dan dengan sukarela juga Ayah Mbak Shafwa mau mengantar pak Iwan dengan mobil pribadinya.

Iyaa.. ketika aku itu aku masih belum bisa menemani Mbak Shafwa dan ayah Mbak Shafwa mengantar Pak Iwan. Karena saat itu lagi ada jam kuliah. Aku hanya mampu  menjadi penghubung antara mereka.

Begitu terus berlanjut. Hingga akhirnya urusan antar jemput pak Iwan cuci darah, kami yang tanggung jawab antar jemput. Dan mobil operasional salah satu relawan kemanusiaan juga turun tangan membantu. Pak Iwan menjadi ladang dakwah bagi relawan ini. meski kadang tidak selalu bisa mengantar, namun Bang Ari, yang bertanggung jawab terhadap relawan tersebut memberi ongkos untuk sewa angkot antar jemput Pak Iwan.

Sudah tak terhitung lagi sudah berapa kali Pak Iwan cuci darah. Cuci darah yang dilakukan setiap hari sabtu tiap minggunya. Aku masih belum berkunjung ke rumah beliau. Aku hanya mendengar cerita dari Mbak Shafwa saja bahwa Pak Iwan ternyata juga punya kelainan lain. Kakinya tidak bisa jalan. Dan sudah cukup lama juga terkena penyakit ginjal ini. Pak Iwan dikaruniai 2 orang anak wanita. Yang sulung berumur 5 tahun sementara si bungsu masih bayi belum nyampai setahun. Beruntung, beliau dikaruniai seorang istri yang penyabar dan ikhlas merawatnya.

Dari penuturan mbak Shafwa juga aku tau bahwa istrinya tidak pernah mengeluh. Selalu sabar menghadapi suaminya yang sakit. Selalu tersenyum. Dan tidak menampakan kesedihan di depan orang lain.

Hingga pada akhirnya Pak Iwan tiada. Dan aku ikut serta melayat di rumah duka, kali itulah aku tau istri Pak Iwan dan keluarganya. Istrinya masih terlihat muda. Ia tetap melukis senyum meski hati di rundung duka. Seakan ia sudah terbiasa menghadapi ujian di dalam hidupnya hingga tiada terasa lagi kepahitan itu ia rasa. Dan di pelayatan juga kami sempat mengobrol tentang keluarga mereka. Tentang pekerjaan, anak-anaknya, dan hal lain.

Iyaa.. mungkin banyak keluarga yang seperti ini. meski tak bernasib sama, namun tetap punya masalah masing-masing dalam hidupnya. Hanya saja kita tidak tau. Mereka yang senantiasa sabar dalam mengarungi samudra kehidupan. Senantiasa setia didalam ketidakberdayaan. Selalu berkhidmat meski air mata meleleh pasrah. Bersembunyi di balik keheningan malam.

Selamat jalan Pak Iwan, semoga semua amal ibadahmu di terima oleh Allah dan keluarga mu yang kau tinggalkan senantiasa diberi kesabaran dan kemudahan dalam menjalani hidup ini. Aaminn..
Read More

Sabtu, 30 Juni 2018

Sinopsis Cinta Dalam Diam


Judul: Cinta Dalam Diam

Nama Penulis: Shineeminka

Tempat Terbit: Jl. Pesantren No. 2 Pondok Hijau Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat

Penerbit: Bintang Media

Tahun Terbit: 2013

Keterangan edisi: Cetakan Pertama

Halaman:  hlm


Sinopsis:
Fatimatuz-Zahra dan Ali bin Abi Thalib. Siapa sich yang tidak kenal dengan 2 tokoh dalam Islam ini? kisah cinta mereka yang sungguh indah. Berteman sejak kecil hingga saling menyukai. Mencintai dalam diam. Bahkan setan pun tidak tau kalau mereka saling mencintai. Hingga pada akhirnya setelah dewasa Rasulullah menolak semua lamaran sahabatnya dengan segala kelebihan. Lalu menerima lamaran Ali bin Abi Thalib dengan suka cita karena memang dialah yang selama ini Rasul tunggu. Meskipun Ali tidak memiliki apa-apa. Rasul tau bahwa putrinya dan Ali bin Abi Thalib saling mencintai. Lalu Ali dan Fatimah menikah.
Yaa.. kisah cinta Ali dan Fatimah zaman Rasulullah tidaklah seindah kisah cinta Ali dan Fatimatuz Zahra di dalam novel ini. kisah cinta yang berawal dari sebuah perjodohan dari mama mereka.
Zahra, demikian ia dipanggil baru memasuki semester awal perkuliahan jurusan kedokteran. Ia mulai belajar hijrah karena dukungan dari mamanya dan membaca buku kisah Ali dan Fatimatuzzahra. Ia dipertemukan dengan Ali disebuah pengajian rutin di rumah tante Anisa. Yaitu ibu dari Ali. Yang merupakan sahabat dekat ibu Zahra. 


Mereka kemudian dijodohkan meskipun Zahra merasa belum siap. Namun sebagai bakti kepada orang tuanya ia pun menerima perjodohan itu. Ali merupakan seorang dokter sekaligus juga dosen di kampus Zahra. Ali lulusan dari Malaysia. Singkat cerita mereka menikah.
Kisah pedih malah dimulai di malam pertama pernikahan. Ketika Ali dan Zahra ingin memasuki kamar pengantin, Ali melihat sosok Ayana. Ayana adalah adik angkat dari ibunya. Otomatis tantenya Zahra. ketika melihat Ayana, seketika wajah Ali berubah. Tidak secerah sebelumnya. Dan ketika Zahra ke kamar mandi untuk membersihkan badan, ia mendengar Ali menelpon sahabatnya, Danang. Suara telpon itu cukup keras sehingga terdengar oleh Zahra. di telpon Ali mengatakan kepada Danang bahwa ia telah salah orang. Bukan Zahra yang selama ini terselip di do’anya. Tapi Ayana. Wajah mereka sangat mirip. Hanya lesung pipi yang membedakan mereka berdua. Zahra memiliki lesung pipi sementara Ayana tidak. Ia fikir foto Zahra yang disodorkan mamanya dahulu adalah orang yang pernah ia cintai dalam diam ketika kuliah di Turki dahulu. Ternyata bukan.
Hati siapa yang tidak sakit? Begitulah yang Zahra rasakan. Meski ia sebelumnya tidak mencintai Ali, namun rasa kagum dan getar cinta itu sudah mulai Zahra rasakan. Ia menangis didalam kamar mandi tanpa sepengetahuan Ali. Ternyata bukan nama dia yang selama ini suaminya sebut.
Lebih menyakitkan lagi ketika Ali meninggalkanya di malam pertama. Ia pergi. Zahra hanya bisa mengiyakan ketika Ali bilang pulang ke rumahnya karena ada sesuatu yang tinggal disana. Zahra tau apa yang terjadi. Zahra berfikir sepertinya pernikahan ia akan segera kandas di malam pertama. Pernikahan yang tidak sampai 24 jam. Namun ternyata Ali kembali lagi setelah ditenangkan oleh Danang. Ia tidak boleh menyakiti hati istri sah nya. Kebahagian sejenak ia rasakan. Dan Ali berusaha untuk melupakan Ayana.
Namun kisah tidak berhenti sampai disana. 6 bulan pernikahan, Ayana kembali hadir dalam hidup Ali. Ali terjebak. Di satu sisi ia mencintai Ayana yang juga ternyata mencintainya. Namun disisi lain ia sudah terlanjur nyaman dengan Zahra dan tidak ingin kehilanganya. Ia menjalani hubungan di belakang Zahra. dan Zahra mengetahui itu. Sikap Ali kepada Zahra mulai berubah. Ia seringkali mengacuhkan Zahra dan sering melewatkan makan malam mereka. Zahra juga tidak habis fikir kenapa tantenya sendiri tega melakukan itu kepada Zahra. padahal tantenya adalah seorang hafidz, lulusan pesantren dan faham agama. Tapi ia mengganggu rumah tangga keponakanya sendiri.
Zahra memendam semua yang ia rasakan seorang diri. Tangis dan pedih menjadi bagian dari hidupnya. Namun karena agama, ia tetap memperlakukan suaminya dengan baik. Sementara Ali benar-benar galau. Ia tidak ingin berlama-lama dalam dosa perasaan. Ia tidak ingin menyakiti Zahra lebih lanjut lagi. Ia menceritakan masalahnya kepada Ibunya. Lalu ibunya datang kepada Zahra dan meminta Zahra untuk mengikhlaskan Ali menikah dengan Ayana.


Hati Zahra benar-benar hancur. Lalu ia menegaskan kepada ibu mertuanya bahwa ia ikhlas Ali menikah lagi dengan syarat dia harus menceraikan Zahra terlebih dahulu. Namun Ali tidak mau melakukan itu. Ibu Ali menyayangi Zahra sebagai mana ia menyayangi anaknya sendiri. Ia meminta Ali untuk segera membuat keputusan. Jangan terlalu lama mendzalimi Zahra.
Zahra lagi-lagi menangis di kamar mandi. Kemudian Ali masuk ke kamar mandi dan menemui Zahra dengan darah dari bawah bajunya. Zahra memang sering sakit akhir-akhir ini. lalu ia dibawa ke rumah sakit dan disana kenyataan pahit harus Ali dengar. Sebuah penyesalan datang bertubi-tubi kepada Ali. Zahra keguguran. Ali menyesal karena ia sendiri bahkan tidak mengetahui bahwa Zahra telah hamil dan bahkan harus kehilangan calon anaknya Karena perbuatan ia sendiri.
Ketika Zahra sadar, Ali meminta maaf kepada Zahra. Zahra memafkan dan mengajak Ali memulai semuanya dari awal. Namun Ali tidak berani mengatakan kepada Zahra bahwa ia baru saja keguguran. Begitupun keluarga yang lain. Karena Ali melarang mengatakanya.
Namun lagi-lagi Ayana yang merusak semuanya. Ia sengaja mengatakanya kepada Zahra. Zahra benar-benar kecewa kepada Ali. Kenapa Ali tidak jujur kepadanya. Sebuah kenyataan pahit justru ia dengar dari Ayana. Seseorang yang telah merusak rumah tangganya. Kehilangan seseorang sebelum sempat kita menyadari kehadiranya tak kalah sakit ketimbang kehilangan seseorang yang telah kita sadari kehadiranya. Itulah yang dirasakan oleh Zahra.
Ia tidak bisa memafkan Ali. Dan ia memutuskan untuk berpisah dengan Ali. Ali berungkali membujuk dan meminta maaf kepada Zahra. namun Zahra tidak menerima. Bahkan ia bersumpah bahwa ia membenci Ali. Dan akhirnya Ali terpaksa merelakan Zahra pergi ke Malang bersama Mamanya. Sebelum pergi Zahra bahkan mengembalikan cincin pernikahan mereka yang ia titip kepada mertuanya agar diserahkan kepada Ali.
Sekian lama mereka menjalani hidup masing-masing. Lalu Ali bermaksud menjemput Zahra. ia menemui Zahra yang lagi di rumah neneknya. Zahra masih membenci Ali namun tak bisa dinafikkan bahwa rasa cinta itu masih ada. Hingga akhirnya Ali jatuh sakit dan Zahra mulai membuka hati dan merawat Ali.
Ujian kembali hadir. Ayana datang ke rmah sakit untuk menjenguk Ali sekaligus meminta pertanggungjawaban Ali terhadap anak yang dikandungnya. Zahra benar-benar shock dan meninggalkan Ali. Ketika Zahra pergi, Ali koma. Penyakitnya semakin parah. Bahkan prediksi dokter hanya 10% saja kemungkinan Ali bisa bertahan. Saat ini ia hanya bisa bertahan berkat alat-alat medis. Zahra merawat dan terus mendo’akan kesembuhan Ali. Bahkan jika Ali sembuh Zahra berniat untuk mengikhlaskan Ali jika ia mau menikah lagi.
Namun di masa Ali sakit parah itu kebenaran terkoyak. Kebohongan Ayana yang tega berbuat jahat kepada Zahra karena sebuah dendam akhirnya terkuak. Anak yang dikandung Ayana bukanlah anak Ali. Tapi anak Dylan. Seseorang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri telah merenggut pertahananya ketika ia dalam keadaan mabuk.
Dylan memang sangat mencintai Ayana. Untuk menembus penyesalan dan kesalahanya kepada Ayana, ia rela melakukan apapun untuk Ayana. Termasuk ketika Ayana meminta Dylan untuk menjebak Ali. Ali dijebak ketika sedang minum berdua dengan Ayana. Sesuatu dimasukan ke dalam minumanya hingga Ali tidak sadar. Lalu Ali dibawa oleh Dylan ke sebuah tempat dan dibuat seolah-olah sudah berhubungan dengan wanita. Dan kemudian di atas meja kamar tempat itu diletakan sebuah tulisan yang ditandatangani oleh Ayana. Sehingga Ali sendiri pun tidak mampu memberi penjelasan ketika dulu Zahra menanyakan apakah benar anak Ayana itu hasil dari perbuatan Ali.
Keajaiban terjadi. Ali membuka matanya tatkala di hari yang mana alat-alat medis Ali itu akan dilepas. Semua keluarga sudah mengikhlaskanya begitupun Zahra. Ali sembuh dan kembali ke dalam pelukan Zahra. Ayana pun telah bertaubat. Ia akhirnya menikah dengan Dylan.
Tahun terus berlalu. Mereka belum juga dikaruniai anak. Kata dokter sesuatu terjadi di rahim Zahra. kemungkinan untuk hamil hanya 10%. Saat itu anak Ayana sudah besar. Danang, yang sahabat Ali juga sudah menikah dengan Citra. Mereka bahkan telah memiliki 2 orang anak.
Namun berkat kesabaran keduanya, akhirnya di anniversary tahun ke-7 pernikahan mereka, Zahra menghadiahkan Ali dengan sebuah tespek yang menunjukan bahwa Zahra hamil. Mereka akhirnya hidup bahagia hingga Zahra dan Ali dikarunia seorang anak laki-laki.
Read More

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan, saya seorang Mahasiswa UMB prodi KPI, announcer di 104,3 radio Jazirah FM, seorang aktivis IMM, Aktivis dakwah KompaQ, serta memiliki hobi nulis dan baca. Untuk kenal lebih lanjut, Kamu bisa mengunjungi ku di Facebook: Nengsih Hariyanti Whatsapp/Telegram: 081532485541 Instagram: @nengsih_hariyanti Email: nengsihhariyanti@gmail.com Twitter: @NengsihRianty2

Babak Baru

Menangis Hanya itu yang bisa aku lakukan Hidup ini mengajariku arti pengorbanan Memulai babak baru sebelum waktu Aku belum siap Sementar...